Segala puji hanya milik Allah ‘Azza wa Jalla. Hanya kepadaNya kita memuji, meminta tolong, memohon ampunan, bertaubat dan memohon perlindungan atas kejelekan-kejelekan diri dan amal-amal yang buruk. Barang siapa yang diberi Allah petunjuk maka tidak ada yang dapat menyesesatkannya dan barang siapa yang Allah sesatkan maka tidak ada yang dapat memberikannya hidayah taufik. Aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah dan tiada sekutu baginya. Aku bersaksi bahwasanya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah hambaNya dan UtusanNya. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarganya dan para sahabatnya ridwanulloh ‘alaihim ajma’in.
Pembaca yang semoga dirahmati Allah ‘Azza wa Jalla, musibah…merupakan suatu kata yang tak jarang kita dengar dalam beberapa tahun terakhir. Banyak pihak yang mengklaim bahwa musibah ini terjadi karena adanya ini dan itu, datang orang lain lagi yang mengklaim karena ini dan itu, begitu seterusnya. Namun bagaimanakah islam memandang musibah, apa penyebabnya dan apa obatnya maka pada kesempatan kali ini marilah kita pelajari sekelumit dari sebab-sebab musibah tersebut dan apa obatnya agar kita dapat merealisasikannya dalam kehidupan sehari-hari.
Sudah menjadi sunnatullah di muka bumi adanya hukum sebab akibat, sudah barang tentu musibah yang banyak kita alami pada tahun-tahun terakhir ini pasti ada sebabnya. Salah satu sebabnya adalah sebagaimana yang disebutkan Allah ‘Azza wa Jalla di dalam kitabNya yang Mulia :
?????? ?????????? ??? ???????? ??????????? ????? ???????? ??????? ???????? ????????????? ?????? ??????? ???????? ??????????? ???????????
“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”. (Ar Ruum [30] : 41)
Ibnu Zaid rahimahullah mengatakan yang dimaksud dengan : perbuatan tangan manusia” dalam ayat di di atas adalah dosa-dosa. Ibnul Qoyyim rahimahullah mengatakan bahwa yang menjadi sebab Allah menampakkan sebagian kerusakan di muka adalah dosa-dosa. Maka lanjutan ayat (yang artinya) : “supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka”, yang diamaksud dengan sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka adalah sebahagian akibat dari dosa-dosa yang mereka kerjakan. Dengan demikian sebab kerusakan-kerusakan yang tampak di muka bumi berupa berbagai kekurangan, bahaya, kesedihan, penyakit dan lain sebagainya yang Allah tampakkan adalah kemaksiatan yang dilakukan oleh hamba-hambaNya, setiap hambaNya melakukan kemaksiatan maka Allah ‘Azza wa Jalla akan timpakan kepada mereka bencana sebagai hukuman atas perbuatan mereka[1]. Dari dua penjelasan ulama’ di atas maka jelaslah bagi kita sebab bencana dan musibah yang kita alami adalah karena perbuatan maksiat yang dilakukan oleh manusia.
Saudara-saudaraku seagama yang semoga selalu diberikan rahmat dan taufiqNya, ketahuilah kemaksiatan yang paling besar yang dilakukan manusia di muka bumi ini adalah perbuatan syirik kepada Penciptanya, yakni Allah ‘Azza wa Jalla sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam kitabNya yang mulia :
????? ????????? ???????? ???????
“Sesungguhnya kesyirikan itu adalah benar-benar kedholiman (kemaksiatan) yang besar” (Luqman [31] : 13)
Bahkan syirik adalah sebuah dosa yang tidak Allah ampuni jika seseorang tidak bertaubat darinya sebelum dia mati, padahal Allah ‘Azza wa Jalla Dzat yang Maha Pengampun, akan tetapi hal ini sebagaimana yang dikatakan Syaikh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin rahimahullah, karena kesyirikan adalah bentuk pelanggaran terbesar terhadap hak Allah ‘Azza wa Jalla[2]. Sebagaimana dalam firman Allah Ta’ala :
????? ??????? ??? ???????? ???? ???????? ???? ?????????? ??? ????? ?????? ?????? ??????? ?????? ???????? ????????? ?????? ????? ???????? ????????
“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan dia mengampuni dosa yang di bawah syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat (dari kebanaran[3]) sejauh-jauhnya”. (An Nisaa’ [4] : 116)
Maka jelaslah bagi kita bahwa kesyirikan adalah kemaksiatan yang paling parah yang dilakukan hamba kepada Robbnya.
Lalu apakah obatnya dari penyakit kesyirikan ini ? Maka jawabnya sudah barang tentu adalah kebalikan dari kesyirikan yaitu mentauhidkan Allah ‘Azza wa Jalla. Tauhid adalah mengesakan Allah dalam hal-hal yang merupakan kekhususan Allah yang meliputi Rububiyah (Allah adalah Pencipta, Pemilik dan Pengatur alam semesta, pen.), Uluhiyah (Allah adalah satu-satunya Dzat yang berhak disembah, pen. ) dan Asma’ wa Shifat (nama-nama dan shifat, pen. )[4]. Tentulah tauhid yang kita maksudkan di sini harus berdasarkan ilmu yaitu berdasarkan Kitabullah dan Sunnah NabiNya shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan pemahaman para ulama salafush sholeh dari kalangan para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik.
Kemudian sebab yang kedua adalah jahilnya sebagian besar ummat islam terhadap agama mereka, yang ini merupakan suatu hal yang kita lihat bersama. Berapa banyak kaum muslimin yang ketika ditanya Dimana Allah? Maka jawaban yang kita dapatkan tidak jarang mereka menjawab dengan jawaban yang tidak semestinya keluar dari lisan seorang muslim, semisal jawaban Allah itu ada dimana-mana, Allah itu ada di hati saya dan lain sebagainya. Padahal telah tegas Allah Subhanahu wa Ta’ala tegaskan dalam firmanNya :
??????????? ????? ????????? ????????
“Ar Rahman (Allah) beristiwa’ di atas ArsyNya” (Thaha [20] : 5)
Maka telah benarlah apa yang dikatakan oleh Nabi kita, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam :
????? ??????? ??? ???????? ????????? ??????????? ? ???????????? ???? ?????????? ? ???????? ???????? ????????? ???????? ???????????? ? ?????? ????? ???? ?????? ???????? ? ???????? ???????? ???????? ????????? ?????????? ? ??????????? ???????? ?????? ? ????????? ???????????
“Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu (agama, pen.) dengan serta-merta dari hamba-hamba Nya. Tetapi, Allah mencabut ilmu dengan mewafatkan ulama, sehingga Allah tidak menyisakan ulama’. Maka, manusia mengambil orang-orang bodoh sebagai pemimpin. Lalu, mereka ditanya, dan mereka memberi fatwa tanpa ilmu, maka mereka telah sesat dan menyesatkan (orang lain, pen.) ” [HR. Bukhori no. 100]
Demikian juga sabda Nabi yang Mulia shallallahu ‘alaihi wa sallam :
????????? ????? ???????? ????????? ??????????? ????????? ?????? ?????????? ??????????? ?????? ?????????? ???????????? ?????? ?????????? ??????????? ?????? ????????? ?????????? ?????? ??????????????? ????? ????? ??????????????? ????? ????????? ?????????? ??? ?????? ???????????
“Akan datang kepada manusia tahun-tahun yang menipu, orang yang berdusta dibenarkan, orang yang berkhianat diberi amanat, orang yang amanat dianggap khianat dan akan ada Ruwaibidhah”. Para sahabat bertanya, “Apa itu Ruwaibidhah?” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan : “Orang yang hina lagi jahil (berbicara tentang, pen.) urusan orang banyak”[5].
Maka obat dari penyakit yang kedua ini adalah menuntut ilmu agama, dan ia adalah suatu yang wajib bagi setiap muslim dan muslimah sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam :
?????? ????????? ????????? ????? ????? ????????
“Menuntut ilmu (agama, pen.)hukumnya wajib bagi setiap muslim”[6].
Dan tidak diragukan lagi bahwa kata muslim dalam hadits ini mencakup muslim dan muslimah sebagaimana yang telah ma’ruf dalam kaidah fiqh. Inilah dua dari sekian banyak sebab turunnya berbagai macam adzab Allah beserta obatnya. Dengan demikian kami mengajak diri kami sendiri dan para pembaca sekalian untuk marilah kita mewaspadai dua penyakit di atas dengan giat menuntut ilmu agama dan diiringi dengan mengamalkannya, Allahu A’lam bish Showab.
Al Faaqir ilaa Maghfiroti Robbihi,
Aditya Budiman
[1] Lihat lihat Ad Daa’u wad Dawa’u oleh Ibnu Qoyyim Al Jauziyah –rahimahullah- dengan tahqiq Syaikh ‘Ali bin Hasan Al Halaby –hafidzahullah-, hal 100, Terbitan Dar Ibnul Jauzy, Riyadh, cetakan ke dua.
[2] Lihat Al Quolul Mufid ‘ala Kitabit Tauhid, hal. 113 terbitan Dar Ibnul Jauzy, Riyadh, cetakan kedua.
[3] Lihat Tafsir Jalalain Li Imamaini Al Jalilaini Muhammad bin Ahmad Al Mahalli dan Abdurrahman bin Abi Bakr As Suyuthi, dengan ta’liq dari Syaikh Shofiyurrahman Al Mubarokfuri hal. 106, terbitan Darus Salam, Riyadh, cetakan kedua.
[4] Lihat Al Quolul Mufid ‘ala Kitabit Tauhid, hal. 8 terbitan Dar Ibnul Jauzy, Riyadh, cetakan kedua.
[5] HR. Ibnu Majah no. 4172 dan dinyatakan shahih oleh Al Albani dalam Ash Shahihah no. 1887 [Asy Syamilah].
[6] HR. Ibnu Majah no. 229 dan dinyatakan shahih oleh Al Albani dalam Takhrij Ahaadits Musykilatul Fiqr no. 226. [Asy Syamilah]
http://alhijroh.co.cc/fiqih-tazkiyatun-nafs/diantara-sebab-musibah-dan-obatnya/
